Kata Kunci

Memuat...

Minggu, 19 Februari 2012

Silabus Matakuliah
Ulumul Hadis
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

A. IDENTITAS
1. Matakuliah : Ulumul Hadis/Pengantar hadis
2. Program Studi : Perbankan Syariah dan Tadris Matematika
3. Semester : I (satu)
4. Kode/ Bobot : / 2 SKS
5. Elemen Kompetensi :
6. Dosen Pengampu : Fauzi Rizal, M.A.
7. Alamat : Jl. Dwikora II Ujung Pal. IV Pijorkoling.

B. STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa mengetahui dan memahami dengan baik arti penting Ilmu Hadis sebagai Suatu pengetahuan untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.

C. KOMPETENSI DASAR

1. Mahasiswa dapat mengetahui sejarah perkembangan Hadis dan Ulumul Hadis, Pembagian Hadis, Takhrij al-Hadis, para
Mukharrij dan kitab-kitab yang Muktabar, serta Inkarussunnah
2. Mahasiswa mampu membedakan hadis sahih dan hadis daif
3. Mahasiswa mampu mengembangkan Takhrij al-Hadis (penelusuran dan Penelitan terhadap Hadis)

D. URGENSI MATAKULIAH
Sarjana Dakwah diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dasar sumber ajaran Islam yang muncul di masyarakat. Menyangkut dunia kerja dimana sarjana dakwah, -khususnya dengan latar belakang program studi PAI/TMM-, diproyeksikan menjadi tenaga-tenaga pengajar ditengah-tengah masyarakat.

E. DESKRIPSI MATAKULIAH

Ulumul Hadis/ilmu hadis/Pengantar Hadis menjadi landasan penting dalam menentukan kualitas dari hadis-hadis yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum dalam beribadah. Landasan ini menjiwai pengertian pengertian hadis, sejarah perkembangan Hadis dan Ulumul Hadis, serta Inkarussunnah dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Terkait dengan pembagian hadis harus dipahami dengan jelas sehingga mampu memilah dan memilih mana hadis-hadis yang sahih yang dapat dijadikan sebagai dalil dalam beribadah dengan hadis daif. Berikutnya tentang Takhrij al-Hadis (penelusuran dan Penelitan terhadap Hadis) menjadi factor yang menentukan dalam menentukan apakah sebuah hadis dikategorikan hasih atau tidak baik ditinjau dari segi sanad maupun dari segi matan, dan selanjutnya para Mukharrij, apa langkah-langkah yang dilakukan mereka dalam kitab-kitabnya yang Muktabar( diakui). Seluruh aspek diatas menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalan ajaran Islam ditengah-tengah masyarakat.

F. TOPIK BAHASAN

I. Overview matakuliah dan kontrak belajar
II. Pengertian Hadis: Hadis, Sunnah, Khabar dan Asar dan Struktur Hadis
III.Hadis Sebagai Sumber Ajaran Agama: Dalil-dalil Kehujjahan Hadis dan Fungsi
Hadhis tyerhadap Alqur’an
IV. Sejarah Hadis Prakodifikasi: hadis pada periode Rasul, Sahabat dan Tabi’in
V. Sejarah Kodifikasi Hadis: Pembukuan Hadis abad II, III, IV, V H dan sampai
Sekarang
VI. Ulumul Hadis, Sejarah Perkembangannya: Pengertian, Sejarah perkembangan
Pemikiran Ulumul Hadis pada periode Klasik,Pertengahan dan Modern
VII.Pembagian Hadis: dari segi Kuantitas Sanad; Mutawatir, Masyhur dan Ahad
VIII.Ujian Mid Semester
IX. Pembagian Hadis: dari segi Kualitas sanad: Sahih, hasan dan Daif
X. Ilmu al-Jarh wa Ta’dil: Pengertian, Objek pembahasan dan Lafaz-lafaz serta
Maratib al-Jarh wan Ta’dil
XI. Hadis Muwdu’: Pengertian, Sejarah Kemunculan dan factor Melatar belakanginya,
Keriteria hadis Mawdu’
XII.Inkarussunnah’ Pengertian, sejarah, argument dan bantahan ulama dan
inkarussunnah di Indonesia
XIII.Orientalisme: pengertian, tokoh-tokoh dan Pemikirannya
XIV. Pengenalan Takhrij Hadis: Pengertian, pengenalan Kitab terkait dan terhadap
Mukharrij.
XV. Ujian Semester

G. STRATEGI PEMBELAJARAN

Pembelajaran aktif menjadi dengan berbagai variasinya akan digunakan sepanjang relevan dengan materi perkuliahan agar mahasiswa terlibat seaktif mungkin dan mencapai hasil yang maksimal. Individual learning tetap akan digunakan apabila diperlukan. Alternatif strategi pembelajaran yang digunakan antara lain: card sort, reading guide, information search, synergetic teaching, student created case study.

H. EVALUASI/ PENILAIAN

Penilaian akhir (final evaluation) matakuliah Ulumul hadis dibuat berdasarkan kontrak belajar sebagai berikut:
1.Kehadiran :15 %
2.Tugas (Individu atau kelompok) :20 %
3.Quis (kontribusi dalam kelas, keaktifan lisan atau tulisan):10 %
4.Ujian Mid Semester (lisan atau tulisan) :25 %
5.Ujian Akhir Semester :30 %

I. REFERENSI
Muhammad Ajjaj Al Khatib, U¡ul al-Hadis Ulumuha wa Mustalahuhu, Beirut: Dar al Fikr, 1981
--------, As-Sunnah Qabla Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M
T.M. Hasbi as Shiddiqiey, Pokok-pokok Dirayah Hadits, Jakarta Bulan Bintang, 1958
------------, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1988
Muhammad Jamal ad Din al-Qasimi, Qawaid Tahdis min Funun Mustalah al-Hadits, Beirut: Dar al-Kutubal Taimiyah, 1997)
Muhammad Mustafa Azami, Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasi Hadits, terj. Ali Mustafa Yaqub, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994
Nur al Din al’itr, Manhaj an Naql fi Ulumul hadits, Damascus: Dar al Fikr, 1982
Subhi As Salih, Ulum al Hadits waMustalahuhu, Beirut:Dar al-Ilm Al Malayin, 1977

Mahmud al Thahhan, Taisir Musthalah al Hadits, Bairut: Dar al-Karim, 1399 H/1979M
-------,Usulut Takhrij wa Dirasatul Asanid, terj.Ridlwan Nasir, Metode Takhrij dan Penelitian sanad, Surabaya: PT.Bina Ilmu, 1995
M.Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut, Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya, Jakarta: Gema Insani press, 1995
-------, Pengantar Ilmu Hadis, Bandung: Angkasa, 1987
-------, Metodologi Penelitian Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1992
-------, Kaedah Keshahihan Sanad Hadits (telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), Jakarta: Bulan Bintang, 1988
Jalal ad Din Abdul Rahman bin Abi Bakar as Suyuti, Tadribur Rawi, tp:Syirkah Maktabah Ahmad bin Sa'ad bin Nubhan wa Auladuhu, t.th)
Mahmud al Thahhan, Taisir Musthalah al Hadits, Bairut: Dar al Karim, ,1399 H/1979M
-------,Usulut Takhrij wa Dirasatul Asanid, terj.Ridlwan Nasir, Metode Takhrij dan Penelitian sanad, Surabaya: .Bina Ilmu, 1995
Ibnu as Shalih,Ulum al hadits, Madinah al Munawwarah: Maktabah al-Ilmiyah, 1972


J. KORTRAK KULIAH
Hasil kontrak kuliah yang dilakukan pada tanggal : Januari 2012
1. Masuk 08.00 WIB dan keterlambatan hanya ditolerir selama 15 Menit (08.15 WIB).
2. Ujian susulan dilayani sampai dengan pelaksanaan ujian akhir semester untuk mata kuliah bersangkutan;
3. Apabila diperlukan, urusan kuliah dapat diselesaikan di rumah dosen;
4. Izin tidak masuk kuliah harus dengan surat;
5. Masing-masing mahasiswa dan dosen dilarang mengaktifkan suara HP;
6. Hindari diskusi ilegal (dilarang ribut);
7. Tidak boleh memakai sandal.

Selasa, 13 September 2011

Kepada Putriku



YA BINTI WA YA IBNII (KEPADA PUTRIKU )
OLEH ALI AT-THANTAWI
KEPADA PUTRIKU
Wahai putriku…. Aku seorang bapak yang sedang berjalan memasuki usia lima puluh tahun. Usia muda telah aku lewati, aku tinggalkan kenangan, impian, lamunan-lamunan  dengan segala ujian-ujian dunia.
 Dengarlah ucapan dari k ata-kataku. Ucapan-ucapan yang haq, yang aku sampaikan secara jelas dan gamblang. Semua apa yang telah aku sampaikan, adalah dari hidupku sendiri. Karenanya, mungkin engkau  belum pernah atau tidak pernah atau malah tidak akan pernah mendengarnya dari  dari orang lain.
Wahai putriku … banyak aku menulis, sering aku menyeru, mengajak kepada ummat untuk menegakkan akhlak, menjunjung budi pekerti yang mulia, memberantas segala macam kerusakan jiwa dan mengendalikan nafsu syahwat untuk melawan dan memberantas kebejatan moral.
Semua itu terus  aku sampaikan, terus aku tulis dan ku khutbahkan … sampai-sampai pena yang aku pakai menjadi tumpul dan lidahku menjadi linu. Namun, tetap tiada hasil yang aku peroleh. Kekmungkaran tetap berjalan dengan tenangnya tanpa mampu kita berantas.
Di setiap pelosok  negeri perbuatan mungkar kita jumpai, terus semakin banyak dalam berbagai bentuknya; wanita semakin berani dan tanpa malu membuka auratnya. Tubuhnya ditonjol-tonjolkan, pergaulan bebas muda mudi bertambah  mencolok, semua itu  beralan melanda Negara demi Negara, tanpa  satu pun negara Islam mampu mengelak.
Negara Suriah yang terkenal dengan keserasial akhlak, yang sangat ketat  menjaga kehormatan diri dengan menutup auratnya, sekarang …… masya Allah! Para wanita berpakaian terbuka, mempertontonkan lengan dan paha, punggung dan dada. Kita gagal, dan saya kira kita tidak akan berhasil. Tahukah engkau apa penyebabnya?
Sebabnya ialah, karena sampai hari ini kita beum menemukan pintu ke arah perbaikan dan kita tidak tahu jalannya.
Wahai putriku, pintu perbaikan ada dihadapanmu. Kunci pintu itu ada di tanganmu. Jika engkau menyakininya dan engkau berusaha memasuki pintu itu, maka keadaan akan berubah menjadi baik.
Engkau benar putriku, bahwa kaum prialah yang pertama melangkah menempuh jalan dosa, bukan wanita, tetapi ingat, bahwa tanpa kerelaanmu dan tanpa kelunakan sikapmu, mereka tidak berkeras melangkah maju. Engkau membuka pintu kepadanya untuk masuk.
Engkau berkata kepada pencuri: “ silakan masuk”….. dan setelah engkau kecurian barulah sadar. Barulah kau teriak….. tolong…..tolong….. aku  kecurian”
Kalau engkau tahu bahwa lelaki itu serigala dan engkau domba, pastilah engkau akan lari, seperti larinya domba dalam ancaman cengkraman serigala.
Kalau engkau sadar, bahwa semua laki-laki itu adalah pencuri, pasti engkau akan bersikap hati-hati dan selalu menjaga diri seperti waspada seorang kikir menghadapi pencuri.
Kalau yang dikendaki  serigala dari domba adalah dagingnya, maka yang diinginkan laki-laki adalah lebih dari itu. Laki-laki menginginkan lebih dari sekedar daging domba…. Dan bagimu lebih buruk dari kematian domba itu.
Laki-laki menghendaki yang paling berharga darimu…. Yaitu harga diri dan kehormatanmu. Nasib seorang gadis yang direngut kehormatannya lebih menyedihkan dari nasib  seekor domba yang dimakan serigala.
Wahai putriku ……. Demi Allah, apa yang dikhayalkan oleh seorang pemuda ketika melihat gadis ialah telanjang tanpa busana.
Saya bersumpah lagi: Demi Allah, jangan percaya kepada omongan sebagian laki-laki, bahwa mereka memandangmu karena akhlak dan adabnya. Berbicara denganmu seperti sahabat dan apabila mencintainya hanyalah sebagai teman akrab, bohong…….. bohong…. Demi Allah ia bohong.
Apabila engkau mendengar sendiri pembicaraan antara mereka, engkau akan takut dan ngeri. Tidak akan ada seoarang pria melontarkankan senyumnya kepadamu, berbicara dengan lembut dan merayu, memberikan bantuan dan pelayanan kepadamu, kecuali akan ada maksud-maksud tertentu. Setidak-tidaknya isyarat bagi dirinya bahwa itu adalah langkah awal.
Apa sesudah itu wahai putriku ?
Renungkanlah !
Kalian berdua, bersama-sama berkencan, menikmati kelezatan  yang hanya sebentar kau rasakan,…….. sesudah itu, dia lupa dan pergi meninggalkan kamu. Dan engkau ?..... sungguh akan merasakan pahitnya dari pertemuan yang sebentar itu untuk  selama-lamanya.
Dia pergi dengan diam-diam meninggalkanmu, mencari mangsa baru untuk dirayu dan diterkam lagi kegadisannya. Sambil dia mencari dan menikmati mangsa baru, engkau pelan-pelan merasakan sesuatu yang berat mengganjal diperutmu.
Engkau sedih dan muram, engkau bingung dan gelisah
Laki-laki yang membesarkan perutmu itu tidak dituntut atau dihukum oleh masyarakat, bahkan… diberi ampun dan divonis bebas dengan alasan: dia yang dulu sesat, tetapi sekarang sudah bertobat.
Tapi engkau……..?
Engkau akan terus kecewa dan terus dihina sepanjang umurmu. Masyarkat tidak akan mengampuni dosamu.
Seandainya, ketika dia mulai merayumu, engkau tolak dengan sikap yang tegas….. engkau alihkan pandanganmu dari pandangannya.
Seandainya sikapmu itu tidak mennghentikan upayanya dan malah bersikap lebih brutal dengan mengucapkan kata-kata jorok dangan  menggunakan tangannya, cepat-cepat engkau lepas sepatu dari kakimu dan pukulkan ke kepalanya……
Kalau engkau lakukan itu, pasti semua orang yang ada di sekitar tempat itu akan serentak menolongmu.
Sesuadah itu……. Dia  akan ngeri mengganggu wanita-wanita terhormat di jalan.
Wahai putriku …….
Laki-laki yang baik dan saleh akan datang kepadamu dengan segala kerendahan hati, emohonkasn maaf, menawarkan kepadamu hubungan yang halal dan terhormat. Ia datang untuk meminang dan mengawinimu.
Seoarang gadis betapa pun tingginya kedudukannya, betapapun banyaknya hartanya, betapa hebat ketenaran dan pengaruhnya,dia pasti punya cita-cita: “ mencapai kebahagiaan yang tinggi yaitu bersuami, menjadi istri yang saleh, terhormat dan ibu Rumah tangga yang baik.
Cita-cita yang seperti itu pasti diharapkan oleh semua wanita, apakah dia ratu, keluarga raja, bintang film Holywood sekalipun, atau wanita biasa.
Perkawinan adalah cita-cita yang paling tinggi  bagi wanita. Jabatan wanita yang tinggi, apakah dia anggota parlemen atau menteri atau bahkan presiden, tetap masih dibawah tingkat pernikahan.
Laki-laki, pada dasarnya adalah mencari wanita terhormat bukan wanita jalang dan bejat. Seaidanya  seorang laki-laki bertunangan dengan  wanita baik-baik tapi sang wanita tiba-tiba berubah akhlaknya, dia menyeleweng dan masuk kepada perangkap nista, cepat-cepat silaki-laki itu pamit meninggalkannya, dia akan tegap melangkah keuar.
Laki-laki yang baik (yang bejat sekalipun), pasti tidak akan rela melihat anaknya keluar dari perut ibu yang cela dan apalagi membesarkan dan memeliharanya.
Putriku, sepi dan lesunya pasar pernikahan dan perkawinan, penyebabnya adalah karena kesalahnmu sendiri. Jatuhnya pasaran dan nilai perkawinan dan makin ramainya bursa pelacuran adalah juga karena perbuatanmu !
Lalu kenapa kalian yang baik-baik  tidak mencegahnya?
Kenapa para wanita  mulia dan terhormat tidak memerangi musibah dan wabah itu?
Kalian, para wanita tentu akan lebih bisa  dan mampu berbuat dari pada kaum pria.
Kalian lebih mengerti  dan paham berbicara dengan bahasa wanita, menguraikan dan memberi peberangan.
Kalian, sebagai wanita yang baik, terhormat, mulia, memiliki harga diri dan memegang teguh agama, pada akhirnya akan menjadi mangsa dan korbannya.
Wahai putriku
Dirikanlah wadah dalam bentuk lembaga persatuan dari kalian sendiri yang anggotanya terdiri dari para cendikiawati, guru dan mahasiswi. Wadah yang berusaha untuk mengembalikan wanita-wanita sesat kepada jalan yang benar.
Ancam dan takut-takuti mereka dengan firman Allah. Kalau tidak mau mendengar dan tak ada rasa takut lagi, beri gambaran akan bahaya penyakit yang akan dideritanya.
Kalau juga tidak perduli, beri penjelasan dari contoh-contoh kenyataan yang ada; katakan pada mereka
“kalian cantik, banyak pemuda yang tertarik dan mengharapkan anda. Kecantikan anda seperti sekarang ini apakah akan bertahan terus?
Bagaimana nasib anda nanti setelah tua? Ketika muka sudah keriput dan punggung melengkung?
Siapa nanti yanga akan mengurusi anda? Siapa yang ketika itu memperhatikan anda
Tahukan anda, siapa yang akan menghormati dan memuliakan orang tua jompo? Hanya anak dan cucunya! Di tengah-tengah mereka, orang tua sepertunya menjadi ratu di antar rakyat, bermahkota, duduk di singgasana.
Bagaimana nasib anda nanti jika terus begini? Bagaimana derita anda di kemudian hari? Anda lebih tahu dari kami.
Coba anda renungkan: apakah pantas disamakan lezatnya hubungan yang sebentar rasanya itu dengan penderitaan-penderitaan anda?
Apakah pantas, harga kegadisan anda dibayar begitu murah dan penderitaan anda setelah itu ditebus dengan harga yang begitu mahal?
Kalau segala upaya penyelamatan tidak membawa hasil, ya sudah anda perlu ganti sasaran. Lakukan penelamatan kepada mereka  yang belum terkena. Cegah mereka dari serangan penyakit  menular itu.
Majalah, Koran dan tv perusak akhlak terus beredar semakin luas. Para penganjur kebejatan moral berjingkrak gembira karena sukses besar memenangkan pertandingan. Kini, kita sampai pada garis yang sudah tidak diridoi lagi.
Kalau anda baca sejarah, tidak akan anda temukan keadaan seperti ini. Bahkan kaum majusi pun tak mengenal kebebasan yang demikian itu.
Binatang, yang tentu tidak punya akal, tak sehebat manusia kini. Dua ayam jantan akan bersabung mempertaruhkan nyawa berebut ayam betina demi menjaga kehormatannya.  Tetapi manusia dengan dalih kebebasan mengorbankan harga dirinya. Dijual obral tubuh dan kehormatannya.
Kita ambil contoh yang dekat saja, tak usah jauh-jauh ke negeri Barat. Kita datang ke pantai dan lihat, betapa wanita-wanita muslimah mempertontonkan tubuhnya hamper seluruh tubuhnya tampak. Kecualli dua bagan yang tertutup. Dan malah lebih nekat membuka bagian  atasnya. Tontonan seperti itu ada dimana-mana. Dinegara muslim atau Negara yang mayoritasnya muslim.
Di tempat pesta club malam, para keluarga “modern” datang berdansa bergantian pasangan, saling tukar istri untuk bergoyang dan berpelukan, berhimpitan dada, perut dan menggenggamnya. Tidak ada rasa malu dan memberi harga pada dirinya.
Dikalangan Mahasiswa, terdapat juga pergaulan bebas, sang putri membuka sebagian auratnya tanpa pencegahan orang tua.
Contoh-contoh seperti yang saya sebutkan baru sebagian saja. Banyak peristiwa-peristiwa yang bukan main macam ragamnya yang tentu anda sendiri melihatnya. Semua itu tak mungki dirubah hanya sekejab. Perlu cara khusus dan proses waktu untuk menghilangkannya
Yang dikategorikan sebagai percampuran bebas: “seorang wanita menerima tamu di rumahnya, berjabat tangan dengan lelaki yang bukan muhrimnya di tempat umum. Bersama-sama pergi dan pulang kuliah, ngobrol secara bebas berkumpul dengan dalih belajar bersama. Semua itu tergolong dalam percampuran bebas. Dan ini merupakan sumber malapetaka kehancuran akhlak.
Cara bercampur seperti itu dianggap biasa. Dia lupa bahwa Allah menciptakannya sebagai wanita dan yang lainnya pria. Masing-masing punya kecendrungan dan daya tarik.
Tak ada makhluk di muka bumi ini yang dapat merubah ciptaan Allah atau membuat sama keduanya ataupun menghilangkan kecendrungan (hasrat) dari masing-masing.
Wanita-wanita menganjurkan emansipasi dan pergaulan bebas, menuntut persamaan atas dasar kemajuan dan tuntutan zaman adalah pembohong besar. Mereka sebenarnya hanya mencari kepuasan nafsu saja. Mereka beranggapan, bahwa kaum pria punya kenikmatan lebih dari wanita. Karenanya mereka inin berusaha merasakan kenikmatan itu. Secara terus terang mereka  tidak berani mengatakannya. Mereka sembunyikan hasray itu dan yang ditonjolkan  issu “tuntutan zaman”, “seni budaya”, “kehidupan kampus”, “alam mahasiswa atau pelajar”. Mereka gembar-gemborkan seperti suara bedug kosong.
Hak yang mereka tuntut adalah batil. Meeka menempatkan Amerika dan Eropa sebagai kiblat dan pemimpin kemajuan. Apapun yang datang dari sana baik dan benar.
Eropa menrgirim dansa, diterima! Mengirim mode pakaian telanjang, ditiru! Percampuran bebas di kampus, mempertontonkan paha dan dada dikolam renag dan tepi pantai dinilai wajar. Sebaliknya, yang datang dari timur dinilai jelek dan batil, walaupun itu pancaran suara masjid, bimbingan dan tuntunan agama, kehormatan dan harga diri,  kebersihan dan kemulian jiwa, hati dan jasmani serta penutup aurat sebagai pelindung dan harga pribadi muslimah.
Kita sebagai  orang timur menerima mentah-mentah apa yang datang dari barat. Tetapi justru sebagian orang Barat menolak “produksi”nya sendiri.
Masyrakat Eropa dan Amerika, sebagiannya menolak percampuran bebas. Mereka menjaga betul pergaulan anak-anaknya
Di Paris, banyak orang tua melarang putrinya pergi bersama pemuda untuk misalnya ke bioskop.
Di Amerika, banyak orang tua yang memillih sekolah khusus untuk putrid untuk anak-akannya. Mereka takut menyekolahkan ti tempat yang bercampur  dengan pria.  Mereka  juga sebagian  mengawal  jika putrid-putrinya berpi berenag.
APAKAH PERCAMPURAN BEBAS BIS MEMBENDUNG GEJOLAK NAFSU SYAHWAT.
Meraka menjawab: bisa !. Percampuran  bebas bisa mengurangi atau memendam api nafsu membara, bisa mendidik berbuat sopan dan budi pekerti, bisa mengurangi gejolak dorongan nafsu.
Jawabab itu aku kembalikan kepada mereka yang telah mempraktekkannya. Kita tanyakan kepada anak-anak sekolah.
Ruusia, Negara yang tidak kenal agama, tidak pernah dengar nasehat ulama, pastur atau pendeta, kini berubah haluan setelah melihat efek negative dari percampuran bebas.
Amerika, Negara yang dijadikan kiblat kemajuan, dibuat pusing oleh banyak siswi-siswi hamil yang jumlahnya terus meningkat.
Lalu, mana bukti yang nyata  jika percampuran bebas akan seperti jawaban di atas/ dan siapa yang senang  melihat kesulitan seperti di Amerika itu terjadi di negeri kita?
Apa yang aku tulis ini bukan ditujukan kepad pemuuda, para pemuda pasti menolak dan menganggap enteng pendapatku ini. Sebab aku mengharamkan menurut mereka enak dan lezat.
Aku hanya berbicara  kepada engkau wahai putrid-putriku yang suci, mulia dan terhormat. Sebab engkaulah yang akan menerima akibatnya, engkau yang bakal korban teman-teman iblis.
Jangan engkau menerima omongan orang-orang yang berdalih “persamaan dan kebebasan”,” kemajuan dan modernism”, “ kebudayaan dan kesenian”, “ kehidupan kampus”, “ alam pelajar dan mahasiswa”.
Orang-orang seperti itu kebanyakan tidak punya istri atau anak. Mereka hanya mencicipi kelezatanmu sebentar lalu pergi.
Aku adalah ayah dari beberapa putriku. Aku menulis ini adalah untuk membela kepentinganmu, berarti aku juga membela kepantingan putriku sendiri. Aku menghendaki yang baik dari anda, sebagaimana aku menghendaki yang baik pula dari anakku.
Mereka para pemuda kawan iblis, tidak akan berpikir sedikit pun akan nasibmu yang hilang kehormatan  dan harga diri. Mereka tidak akan menyesal akan perbuatannya  yang telah membawa engkau kepada kehinaan dan nama baikmu yang telah cacat. Apabila  itu terjadi pada dirimu, maka buktikan, tidak seoraqng pun datang membentumu.
Mereka akan datang, jika enfkau masih bnisa dinikmati. Tapi kalau menjadi sakit  atau pudar kecantikanmu, mereka akan pergi seperti perginya kerumunan anjing yang kehabisan bangkai daging.
Wahai putriku,
Itulah nasehatku yang hak dan benar
Mudah-mudahan engkau akan mendengar
 Jangan engkau dengar omongan orang lain
Yang mengajak kepada lalai
Hanya di tanganmu wahai putriku
Hanya di tanganmu saja kunci pintu kebaikan
Kalau engkau mau memperkaiki dirimu.
Maka seluruh ummat akan menjadi baik.

Jilbab Gaul


Jilbab Gaul: Berpakaian Tapi Telanjang
Pernahkah kita berpikir mengapa begitu banyak perempuan dan wanita muslim yang mengenakan ‘jilbab’, namun berpakaian sangat ‘provokatif,’ misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan.
Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan “kerudung gaul”. Atau diistilahkan Milasari Astuti –dalam artikelnya di sebuah situs Islam— dengan istilah “jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatas nyekek leher. Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jean atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya.
Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang perempuan atau wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik.
Beberapa gelintir perempuan berkomentar, “Lho, masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, daripada tidak sama sekali?!” Yang lainnya menyatakan, “Ini kan masih belajar untuk menutup aurat.” Ya, kerudung gaul selalu dianggap lebih baik daripada tidak menutup aurat sama sekali. Atau juga dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat. Pernyataan-pernyataan tersebut sekilas tampak benar, namun sejatinya sungguh keliru. Karena seorang muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah.
Alih-alih menggunakan kerudung gaul untuk proses belajar menutup aurat, namun setelah itu terkadang lupa akan aturan syariat yang sebenarnya. Walaupun kemudian mereka sadar akan aturan yang sesungguhnya, namun kemudian sulit untuk berubah. Alih-alih dipandang sebagai sebuah kebaikan daripada tidak menutup aurat sama sekali, mereka justru beriman setengah-setengah.
….kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. Mereka mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming ….
Bagi para muslimah yang memahami benar ketentuan jilbab sesuai perintah teks Al-Qur‘an dan hadits, mengenakan kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. “Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri,” tulis salah seorang akhwat dengan id facebook Hilya Jae-hee, ketika mengomentari topik kerudung gaul.
Begitulah, bisa jadi, para wanita muslim berkerudung gaul berniat hendak menutup aurat, namun memiliki paradigma bahwa perempuan harus ‘mensyukuri’ keindahan tubuh yang telah Allah anugerahi, lalu memamerkannya kepada orang lain. Paradigma ‘bersyukur’ ini semakin meluas di negara-negara yang dikenal ketat menjaga tradisi keagamaan seperti di Timur-Tengah (Timteng). Lihat saja, kini sudah banyak majalah di negara-negara Timteng yang sampulnya memamerkan pose perempuan yang memperlihatkan perut dan bagian-bagian tubuh lainnya. Di luar negara-negara Timteng lainnya, sudah lebih parah dan berani lagi.
Bahkan lucunya, kini semacam ada pandangan yang menyatakan bahwa perempuan yang memilih untuk berjilbab panjang dan mengenakan gamis rapih, maka mereka akan kehilangan respek dari kaum lelaki. Padahal, ditilik dari sudut pandang Islam, perempuan dewasa yang tidak menutup aurat, justru merekalah yang akan kehilangan respek dari setiap muslim dan muslimah, dan kehilangan respek dari Allah tentunya.
Maraknya fenomena penggunaan kerudung gaul atau jilbab nyekek oleh para remaja putri dan wanita muslim, boleh jadi disebabkan pengetahuan mereka yang minim mengenai hijab (jilbab). Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keislamannya belum mumpuni. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam keadaan ‘telanjang’. Propaganda-propaganda yang menyimpulkan bahwa jilbab adalah pakaian adat wanita Arab saja, sampai kepada pelecehan dengan istilah pakaian tradisional. Hingga banyak dari kalangan kaum muslimah termakan olehnya dan meninggalkan jilbab yang syar’i.
Padahal, jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis, atau kain (kisaa‘) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsaub) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan bahwa ilbab itu laksana sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
….jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh….
Dalam kamus Ash-Shahhah, Al-Jauhari menyatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung). Makna jilbab seperti inilah yang diinginkan Allah ketika berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)
Para ulama pakar tafsir pun sepakat, jilbab syar’i bermakna sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Hal ini membuat seorang muslimah tampak elegan, santun, bermartabat, dan tentunya berkepribadian islami.
Jika seorang wanita muslimah memakai hijab (jilbab), secara tidak langsung dia berkata kepada semua kaum laki-laki, “Tundukkanlah pandanganmu, aku bukan milikmu serta kamu juga bukan milikku, tetapi aku hanya milik orang yang dihalalkan Allah bagiku. Aku orang yang merdeka dan tidak terikat dengan siapa pun, dan aku tidak tertarik kepada siapa pun, karena aku jauh lebih tinggi dan terhormat dibanding mereka yang sengaja mengumbar auratnya supaya dinikmati oleh banyak orang.”
Sementara seorang wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul atau jilbab nyekek, ber-tabarruj atau pamer aurat dan menampakkan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain, akan mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba. Secara tidak langsung dia berkata, “Silahkan kalian menikmati keindahan tubuhku dan kecantikan wajahku. Adakah orang yang mau mendekatiku? Adakah orang yang mau memandangiku? Adakah orang yang mau memberi senyuman kepadaku? Atau manakah orang yang berseloroh “Aduhai betapa cantiknya?”
….Wanita yang mengenakan kerudung gaul itu pamer aurat dan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain. Mereka mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba….
Setiap laki-laki pun sontak berebut menikmati keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Mata mereka akan menelanjanginya dari atas hingga mata kaki. Sehingga membuat laki-laki terfitnah, maka jadilah dia sasaran empuk laki-laki penggoda dan suka mempermainkan wanita.
Inilah mengapa para pengguna kerudung gaul diibaratkan berpakaian namun telanjang. Hal ini sebagaimana disinyalir Rasulullah dalam sabda beliau, “Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggok-lenggok, kepalanya bagaikan punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan sejak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim)
Ketika ditanya mengenai sabda Nabi: “Berpakaian tapi telanjang”, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjawab, “Yakni wanita-wanita tersebut memakai pakaian, akan tetapi pakaian mereka tidak tertutup rapat (menutup seluruh tubuhnya atau auratnya).”
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun (berpakaian namun telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Lihat: Jilbab Al-Mar‘ah Muslimah, 125-126).
….Rasulullah bersabda bahwa wanita berpakaian tapi telanjang (kasiyatun ‘ariyatun) itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya….
Al-Munawi, dalam Faidh Al-Qadir, mengatakan mengenai makna ‘berpakaian namun telanjang’, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.”
Hal senada juga dikatakan oleh Ibnul Jauzi yang berpendapat bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna. Pertama, wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. Kedua, wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. Ketiga wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya.
Kesimpulannya, wanita berpakaian telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, atau memakai pakaian ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.
PAKAIAN ISLAMI BAGI WANITA (TIGA SYARAT HIJAB)
Ada beberapa syarat yang harus dipahami remaja putri dan wanita muslim ketika hendak mengenakan hijab atau jilbab syar’i, sebagaimana dilansir situs Islam www.alsofwah.or.id.
PERTAMA, hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)
KEDUA, hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal, tidak menampakkan warna kulit tubuh (transfaran).
2. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.
3. Hendaknya hijab tersebut tidak berwarna-warni dan tidak bermotif.
Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan, karena Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan (kebanggaan) di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada Hari Kiamat kemudian dibakar dengan Neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan).
Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian berdasarkan hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita pezina.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa‘i dan At-Tirmidzi, dan hadits ini Hasan).
….Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir….
KETIGA, hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir, karena Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.”
Rasulullah juga mengutuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan mengutuk seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki. Wallahu ‘Alam. [ganna pryadha/voa-islam.com]